Senin, 31 Maret 2014

Kesederhanaan merupakan kekayaan

Betapa sering takjub ketika melihat seseorang dengan dandanan yang ‘wah’, dengan cincin, gelang, anting yang meliputi dirinya. Disertai pula dengan menjinjing tas merek terkenal. Belum lagi mobil yang dikendarai yang tergolong dalam mobil mewah. Tak dapat kita pungkiri bahwa jelaslah dia seorang wanita yang berada. Ia mampu mempunyai semua itu.

Tentulah kita merasa, jika pada level itu, pengucapan syukur akan terus menerus. Karena diberkati sekali hidupnya dan sukses serta tidak dipusingkan dengan masalah ekonomi. Dan, tidak jarang juga, ada rasa iri yang menghinggapi diri, mengapa kita tidak bisa seperti itu. Walaupun sudah kerja siang-malam, tapi tidak bisa juga sekaya wanita yang tadi.

Benar, bahwa kita selalu melihat dari segi materi terlebih dahulu. Namun kita suka lupa bahwa hidup ini tidak hanya materi belaka. Belum tentu kebahagiaan menghampiri kehidupan wanita kaya raya tadi. Jikapun ya, dia berbahagia, maka bersyukur. Namun jika tidak, alangkah malangnya hidupnya.

Kehidupan ini tidak dapat hanya dihitung dari materi. Seorang teman, mempunyai penghasilan yang luar biasa besarnya. Sebagai konsultan pendidikan, jasanya sangatlah dibutuhkan. Din pun pekerja keras. Melihat dari harga rumahnya, sekolah anak-anaknya yang pada diluar negeri serta hasil kerja nyatanya, ia dapat ditengarai sebagai orang yang kaya raya. Namun, satu hal yang sangat menambah kekayaannya adalah kesederhanaannya. Jika orang menggunakan handphone yang canggih, dia sangat bersahaja menggunakan handphone seri lama. Jika orang-orang berlomba menunjukkan betapa kaya dan eksistensi diri, maka dia lebih banyak merendahkan hati. Mau naik angkutan umum, makan dipinggir jalan, serta tidur ditempat kos seadanya bersama teman-teman kuliahnya. Jadi dari harta kekayaan yang memang dia sudah miliki, maka bertambah lagi harta tersebut, dengan adanya kesederhanaan dalam menjalani kehidupan ini.

Contoh lain juga ada seorang pengacara sukses, yang tampil sepantasnya. Istilahnya tidaklah terlalu gembel, tapi juga tidak terlalu mewah. Dengan aset yang dia miliki, sebenarnya sudah dapat membawa dirinya di posisi pengacara yang berada. Namun, dia lebih memilih unutuk berbuat bagi lebih banyak orang. Mobil tidak perlu mewah, namun cukup representatif untuk menunjang kegiatan operasionalnya. Begitu juga fasilitas lain, seperti fasilitas kantornya. Dengan demikian, situasi dikantornya mencerminkan “Pembelaan kepada rakyat kecil”. Waktunya diatur sedemikian rupa agar tetap bisa menyisihkan untuk pengabdian sosial, terutama untuk lingkungan sekitarnya. Kesederhanaan itulah yang memperkaya kehidupannya.

Kedua tokoh diatas merupakan contoh orang yang sukses, namun tampil dengan apa adanya. Menyadari bahwa kehidupan ini tidak hanya dinilai dari materi, namun juga hal-hal yang mendasar. Intinya dengan kebutuhan minimum, kita tetap dapat memberikan yang terbaik bagi orang banyak. Tidak harus berlebihan, baru kita mau memberi.


Dengan hidup sederhana kita akan melihat bahwa ada suatu nilai dari kehidupan yang tidak ternilai harganya. Sehingga dalam situasi apapun, kita siap menghadapi. Karena kita mengetahui apa kebutuhan minimum yang kita perlukan.

Tidak ada komentar: